Pengertian Al-Lathif
Kata Al Lathif berasal dari akar kata la-tha-fa, yang bermakna lembut,
halus, atau kecil. Az-Zajjaj, pakar bahasa Arab dalam tafsir Asma’ul Husna
mengartikan Al-Lathif sebagai ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai “yang
mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi atau tak terduga.”
Al-qur'an memberitahukan kepada
kita deretan ayat tentang yang Maha Halus
didalam Al-Qur’an bahwa Allah bersifat Al-Lathif, diantaranya sebagai
berikut :
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن
يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ
Artinya : Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki
kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(QS. Asy Syura : 19)
*****
خَبِيرٌ لَطِيفٌ ٱللَّهَ إِنَّ مُخْضَرَّةً
ٱلْأَرْض فَتُصْبِحُ مَآءً ٱلسَّمَآء مِنَ أَنزَلَ ٱللَّهَ أَنَّ تَرَ أَلَمْ
Artinya : Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari
langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui
.
(QS. Al HAjj : 63)
*****
ٱلسَّمَٰوَٰت فِى وْأَ صَخْرَةٍ فِى فَتَكُن
لٍدَ خَرْ مِّنْ حَبَّةٍ مِثْقَالَ تَكُ إِن إِنَّهَا يَٰبُنَىّ
خَبِيرٌ
لَطِيفٌ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّه بِهَا تِ يَأْ ٱلْأَرْض فِى وْأَ
Artinya : Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di
dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya
Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Lukman : 16)
Dari ayat diatas jelas menunjukkan rangkaian "latiifun khobir"
atau Maha Halus dan Maha Mengetahui yang menanyakan keniscayaan dalam dimensi
manusia, namun sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang tiada berasa oleh
manusia.
Allah menciptakan kita dan Dialah Allah Yang Maha Tahu dengan detil siapa
diri kita. Allah-lah yang tahu kebutuhan fisik kita. Allah tahu akan kebutuhan
kita bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri, tidak mintapun kebutuhan kita
sudah dipenuhi.
Al Lathif (Yang Maha Lembut/Maha Halus) artinya DIA adalah Tuhan yang
bersikap lembut kepada hamba-hamba-Nya pada semua hal yang telah ditakdirkan
dan Dia mengetahui semua perkara yang tersembunyi. Dia-lah yang maha mengasihi
semua umat-Nya dan mengetahui perkara sampai sekecil-kecilnya
Selain itu Allah SWT berfirman dalam ayat lain berbunyi ”wal yatalaththaf”
yang secara harfiah berarti ”hendaklah kalian berlaku lemah lembut”.
Dari ayat tersebut Allah SWT. juga memerintahkan kita untuk bersifat
lemah lembut dan peduli sesama manusia.
Predikat Al Lathif memang pantas disandang Allah, dan hanya Dia yang
pantas menyandangnya. Setidak-tidaknya, ada tiga alasan mengapa Dia disebut Al
Lathif :
Pertama, Dia melimpahkan karunia
kepada hamba-hambaNya secara tersembunyi dan rahasia, tanpa diketahui oleh
mereka. Ketika Dia menyatukan dua insan berlainan jenis dalam mahligai
rumahtangga, tak seorang pun tahu dari mana datangnya cinta. Begitu halus,
begitu lembut, sehingga orang yang dikaruniainya tak juga mengetahuinya.
Demikian pula anugerah rizki yang lain, semua serba halus dan tersembunyi.
Al-Ghazali memberi catatan khusus di sini, ketika ia menggambarkan betapa Maha
Halusnya Allah. Ia mengangkat contoh janin, bagaimana Allah memelihara janin
ibu dan melindunginya dalam tiga masa kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut,
kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi anak dalam
rahim. Betapa Mahahalusnya Dia ketika memberi makan janin melalui pusar sampai
ia lahir dan mengilhaminya menyusu kepada ibunya tanpa ada yang pernah
mengajarinya. Gigi-gigi bayi ketika itu belum ditumbuhkan agar si Ibu tidak
kesakitan ketika anaknya menyusu. Siapakah yang menahan tumbuhnya gigi bayi?
Semuanya serba halus, lembut, dan nyaris tidak ada yang mengetahuinya.
Kedua, Dia menghamparkan alam raya
ini untuk makhlukNya. Allah memberi kepada semua makhlukNya melebihi yang
diminta. Kita tidak pernah minta hidup di dunia ini, tapi Dia menganugerahi
kehidupan. Kita tidak pernah ingin dijadikan manusia, tapi Allah menakdirkan
kita menjadi manusia. Kita tidak pernah minta bisa berbicara, tapi Allah
mengaruniakan kepada kita kemampuan berbicara. Dia telah memberi sebelum
diminta. Di sisi lain, Dia tidak pernah menuntut balas, juga tidak memberi
beban melebihi kemampuan makhlukNya. Adakah yang lebih santun dari Dia?
Ketiga, Dia berkeinginan agar
semua makhlukNya mendapatkan kemaslahatan dan kemudahan. Dia tidak ingin
makhlukNya mendapati kesulitan. Al-Qur’an bertutur: “Allah menghendaki
kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesulitan.”
Itulah sebabnya, Allah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana kehidupan
dan memberi kemudahan kepada manusia untuk mendapatkannya. Allah melengkapi
makhlukNya dengan berbagai indera, selain naluri yang bersifat alamiah. Khusus
untuk manusia, Allah mengaruniakan akal pikiran dan hati nurani. Dua sarana
yang dikaruniakan Allah itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk
tertinggi.
Indikator / Makna Dari Asmaul Husna
“Al-Latif”.
Pertanyaan
"Apakah kamu tiada
melihat" atau pertanyaan
"biji
sawi yang tersembunyi dalam batu baik dilangit atau di bumi" atau
pertanyaan
"pencipta tapi tidak
tahu". Ketiga pertanyaa diatas merupakan sindiran bagi manusia yang
memiliki keterbatasan namun selalu menjawab sesuatu seolah lebih tahu dari yang
maha tahu.
Sindiran dalam pertanyaan pertama merupakan sesuatu yang general tentang hujan,
namun banyak yang menyangkal dengan mengatakan bahwa itu adalah proses alamiah
semata sebagaimana teori kondensasi. Peranan Allah dalam menentukan hujan
sering terlupakan, sehingga ketika hujan turun bukan bersukur, namun lebih
kepada hal yang seharusnya memang terjadi atau memang musim hujan.
Sindiran dalam pertanyaan kedua adalah memang sesuatu yang tersembunyi yang
tidak dapat dijangkau manusia, baik sesuatu bentuk nyata atau tidak, namun
kebanyakan manusia selalu mengesampingkan peranan Allah dalam kejadian tersebut.
Sedikit sekali peranan Allah merupakan efek dominan dari ilmu pengetahuan,
berita atau kejadian. Sindiran tersebut merupakan sindiran sangat halus bahkan
diibaratkan ketika berbakti kepada orang tua dan harus memilih untuk
mempersekutukan Allah, maka pilihan seharusnya tetap pada Tauhid
•
Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan. (lukman:15)
Sindiran ketiga merupakan pertanyaan umum, ketika suatu ciptaan terbentuk, maka
Allah maha Tahu tentang mengapa ciptaan itu terbentuk. Selain karena memang
merupakan hukum alam (pengetahuan), maka peranan Allah sangatlah besar dalam
memunculkan suatu peristiwa atau kejadian. Kebanyakan manusia memang tidak
memikirkan hal ini sebagai sindiran yang sangat halus.
•
...sesungguhnya kebanyakan dari manusia
lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (yunus:92)
Sindiran Allah-pun secara halus bisa juga mengenai diri kita, yang artinya kita
harus lebih dekat kepada Allah ketika di sindir. Hal yang berbahaya ketika
sindiran itu tidak terasa sama sekali karena pekatnya hati diliputi kesombongan
karena merasa paling benar.
Dunia lain kadang menerjemahkan maha halus ini sebagai sosok peri, wanita yang
memiliki perasaan sangat halus. Dalam Islam, maha halus ini lebih dari itu,
sehingga maha halus selalu diikuti dengan maha mengetahui (latiifun khobir)
Perbuatan Allah Yang Dapat dikategorikan dalam Asmaul Husna Al-Latif
Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum
kedatangan rahmat-nya ; dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,
agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri yang mati, dan agar Kami
memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami,
binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah
mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran ;
maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (al:furqoon:48-50)
Dari surat di atas contoh perbuatan Allah yang dapat di kategorikan dalam
asmaul husna al latif yaitu:
•
Allah menurunkan hujan sebagai rahmat
manusia di bumi dan sebagai wujud Allah bersifat Al-Latif
Hikmah Mempelajari dan Mengamalkanya
Dlam kehidupan sehari-hari biasa orang melembutkan hatinya, dia akan halus
dan peka, kepekaan itu ada 3 macam :
a. Peka terhadap dosa dan kesalahan.
Setiap manusia tidak akan lepas dari dosa dan kesalahan,
tetapi
bagaimana kita peka atau tidak terhadap dosa dan kesalahan
yang ada.
Orang-orang yang berhati lembut dan halus akan mempunyai
kepekaan,
sehingga dosa dan kesalahan menjadi bahan untuk evaluasi dan
perbaikan diri.
b. Peka terhadap ilmu.
Seberkas cahaya masuk menerangi segelas air dan sekelilingnya. Tetapi
jika kotor gelas, air dan sekelilingnya, maka tidak akan terterangi.
Jika seseorang yang hatinya keruh, jangankan untuk menerangi
sekelilingnya, diri dan keluarganya belum tentu bisa terterangi.
c. Peka terhadap amal.
Ikhlaskan amal dengan kelembutan karena Allah bisa
mengingatkan
hambanya dengan peringatan yang lembut
Untuk melatih kepekaan kita harus melakukan pergaulan sehingga dapat
melembutkan hati. Amalan yang dilatih untuk melembutkan hati :
1. Bergaul dengan lingkungan orang miskin, sakit dan lemah.
2. Dengan cara berbuat kebaikan,
Sehingga sikap yang muncul adalah dari menerima pemberian orangmenjadi
memberi orang lain. Akhirnya akan menjadi manusia yang ikhlas dalam
beramal.
3. Selalu ingat kepada Allah.
Kalau kita banyak melakukan dzikir, maka sikap kita adalah sikap yang
terkendali kapanpun dan dimanapun. Wallahu'alam.
Secara garis besar pengamalan asma “Al Lathif“dalam doa memiliki empat
fungsi.
(1). untuk
menyembunyikan diri dari pengelihatan orang-orang zalim (
terlindungi dari ancaman musuh )
(2). untuk
kebebasan dari segala kesempitan
(3). untuk memenuhi segala kebutuhan
(4). untuk
kemudahan mencari rejeki