Rabu, Maret 26, 2014

Pengertian Al-Lathif

Pengertian Al-Lathif
Kata Al Lathif  berasal dari akar kata la-tha-fa, yang bermakna lembut, halus, atau kecil. Az-Zajjaj, pakar bahasa Arab dalam tafsir Asma’ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai “yang mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi atau tak terduga.”
Al-qur'an memberitahukan kepada kita deretan ayat tentang yang Maha Halus
didalam Al-Qur’an bahwa Allah bersifat Al-Lathif, diantaranya sebagai berikut :
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ
Artinya : Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(QS. Asy Syura : 19)
*****
خَبِيرٌ لَطِيفٌ ٱللَّهَ إِنَّ مُخْضَرَّةً ٱلْأَرْض فَتُصْبِحُ مَآءً ٱلسَّمَآء مِنَ أَنزَلَ ٱللَّهَ أَنَّ تَرَ أَلَمْ
Artinya : Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui .                                    (QS. Al HAjj : 63)
*****
ٱلسَّمَٰوَٰت فِى وْأَ صَخْرَةٍ فِى فَتَكُن لٍدَ خَرْ مِّنْ حَبَّةٍ مِثْقَالَ تَكُ إِن إِنَّهَا يَٰبُنَىّ                 خَبِيرٌ لَطِيفٌ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّه بِهَا تِ يَأْ ٱلْأَرْض فِى وْأَ
Artinya : Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Lukman : 16)
Dari ayat diatas jelas menunjukkan rangkaian "latiifun khobir" atau Maha Halus dan Maha Mengetahui yang menanyakan keniscayaan dalam dimensi manusia, namun sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang tiada berasa oleh manusia.
Allah menciptakan kita dan Dialah Allah Yang Maha Tahu dengan detil siapa diri kita. Allah-lah yang tahu kebutuhan fisik kita. Allah tahu akan kebutuhan kita bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri, tidak mintapun kebutuhan kita sudah dipenuhi.

Al Lathif  (Yang Maha Lembut/Maha Halus) artinya DIA adalah Tuhan yang bersikap lembut kepada hamba-hamba-Nya pada semua hal yang telah ditakdirkan dan Dia mengetahui semua perkara yang tersembunyi. Dia-lah yang maha mengasihi semua umat-Nya dan mengetahui perkara sampai sekecil-kecilnya
Selain itu Allah SWT berfirman dalam ayat lain berbunyi ”wal yatalaththaf” yang secara harfiah berarti ”hendaklah kalian berlaku lemah lembut”.
Dari ayat tersebut Allah SWT.  juga memerintahkan kita untuk bersifat lemah lembut dan peduli sesama manusia.
Predikat Al Lathif  memang pantas disandang Allah, dan hanya Dia yang pantas menyandangnya. Setidak-tidaknya, ada tiga alasan mengapa Dia disebut Al Lathif : 
Pertama, Dia melimpahkan karunia kepada hamba-hambaNya secara tersembunyi dan rahasia, tanpa diketahui oleh mereka. Ketika Dia menyatukan dua insan berlainan jenis dalam mahligai rumahtangga, tak seorang pun tahu dari mana datangnya cinta. Begitu halus, begitu lembut, sehingga orang yang dikaruniainya tak juga mengetahuinya. Demikian pula anugerah rizki yang lain, semua serba halus dan tersembunyi. Al-Ghazali memberi catatan khusus di sini, ketika ia menggambarkan betapa Maha Halusnya Allah. Ia mengangkat contoh janin, bagaimana Allah memelihara janin ibu dan melindunginya dalam tiga masa kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi anak dalam rahim. Betapa Mahahalusnya Dia ketika memberi makan janin melalui pusar sampai ia lahir dan mengilhaminya menyusu kepada ibunya tanpa ada yang pernah mengajarinya. Gigi-gigi bayi ketika itu belum ditumbuhkan agar si Ibu tidak kesakitan ketika anaknya menyusu. Siapakah yang menahan tumbuhnya gigi bayi? Semuanya serba halus, lembut, dan nyaris tidak ada yang mengetahuinya.
Kedua, Dia menghamparkan alam raya ini untuk makhlukNya. Allah memberi kepada semua makhlukNya melebihi yang diminta. Kita tidak pernah minta hidup di dunia ini, tapi Dia menganugerahi kehidupan. Kita tidak pernah ingin dijadikan manusia, tapi Allah menakdirkan kita menjadi manusia. Kita tidak pernah minta bisa berbicara, tapi Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan berbicara. Dia telah memberi sebelum diminta. Di sisi lain, Dia tidak pernah menuntut balas, juga tidak memberi beban melebihi kemampuan makhlukNya. Adakah yang lebih santun dari Dia?
Ketiga, Dia berkeinginan agar semua makhlukNya mendapatkan kemaslahatan dan kemudahan. Dia tidak ingin makhlukNya mendapati kesulitan. Al-Qur’an bertutur: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesulitan.”
Itulah sebabnya, Allah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana kehidupan dan memberi kemudahan kepada manusia untuk mendapatkannya. Allah melengkapi makhlukNya dengan berbagai indera, selain naluri yang bersifat alamiah. Khusus untuk manusia, Allah mengaruniakan akal pikiran dan hati nurani. Dua sarana yang dikaruniakan Allah itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi.
Indikator / Makna Dari Asmaul Husna “Al-Latif”.
Pertanyaan "Apakah kamu tiada melihat" atau pertanyaan "biji sawi yang tersembunyi dalam batu baik dilangit atau di bumi" atau pertanyaan "pencipta tapi tidak tahu". Ketiga pertanyaa diatas merupakan sindiran bagi manusia yang memiliki keterbatasan namun selalu menjawab sesuatu seolah lebih tahu dari yang maha tahu.
Sindiran dalam pertanyaan pertama merupakan sesuatu yang general tentang hujan, namun banyak yang menyangkal dengan mengatakan bahwa itu adalah proses alamiah semata sebagaimana teori kondensasi. Peranan Allah dalam menentukan hujan sering terlupakan, sehingga ketika hujan turun bukan bersukur, namun lebih kepada hal yang seharusnya memang terjadi atau memang musim hujan.
Sindiran dalam pertanyaan kedua adalah memang sesuatu yang tersembunyi yang tidak dapat dijangkau manusia, baik sesuatu bentuk nyata atau tidak, namun kebanyakan manusia selalu mengesampingkan peranan Allah dalam kejadian tersebut. Sedikit sekali peranan Allah merupakan efek dominan dari ilmu pengetahuan, berita atau kejadian. Sindiran tersebut merupakan sindiran sangat halus bahkan diibaratkan ketika berbakti kepada orang tua dan harus memilih untuk mempersekutukan Allah, maka pilihan seharusnya tetap pada Tauhid
Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (lukman:15)
Sindiran ketiga merupakan pertanyaan umum, ketika suatu ciptaan terbentuk, maka Allah maha Tahu tentang mengapa ciptaan itu terbentuk. Selain karena memang merupakan hukum alam (pengetahuan), maka peranan Allah sangatlah besar dalam memunculkan suatu peristiwa atau kejadian. Kebanyakan manusia memang tidak memikirkan hal ini sebagai sindiran yang sangat halus.
...sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (yunus:92)
Sindiran Allah-pun secara halus bisa juga mengenai diri kita, yang artinya kita harus lebih dekat kepada Allah ketika di sindir. Hal yang berbahaya ketika sindiran itu tidak terasa sama sekali karena pekatnya hati diliputi kesombongan karena merasa paling benar.
Dunia lain kadang menerjemahkan maha halus ini sebagai sosok peri, wanita yang memiliki perasaan sangat halus. Dalam Islam, maha halus ini lebih dari itu, sehingga maha halus selalu diikuti dengan maha mengetahui (latiifun khobir)

Perbuatan Allah Yang Dapat dikategorikan dalam Asmaul Husna Al-Latif
Dia lah yang meniupkan angin   pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya ; dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri   yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran ; maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (al:furqoon:48-50)
Dari surat di atas contoh perbuatan Allah yang dapat di kategorikan dalam asmaul husna al latif yaitu:
Allah menurunkan hujan sebagai rahmat manusia di bumi dan sebagai wujud Allah bersifat Al-Latif
Hikmah Mempelajari dan Mengamalkanya
Dlam kehidupan sehari-hari biasa orang melembutkan hatinya, dia akan halus dan peka, kepekaan itu ada 3 macam :
a. Peka terhadap dosa dan kesalahan.
    Setiap manusia tidak akan lepas dari dosa dan kesalahan, tetapi
    bagaimana kita peka atau tidak terhadap dosa dan kesalahan yang ada.
    Orang-orang yang berhati lembut dan halus akan mempunyai kepekaan,
    sehingga dosa dan kesalahan menjadi bahan untuk evaluasi dan
    perbaikan diri.
 b. Peka terhadap ilmu.
Seberkas cahaya masuk menerangi segelas air dan sekelilingnya. Tetapi
jika kotor gelas, air dan sekelilingnya, maka tidak akan terterangi.
Jika seseorang yang hatinya keruh, jangankan untuk menerangi
sekelilingnya, diri dan keluarganya belum tentu bisa terterangi.
 c. Peka terhadap amal.
     Ikhlaskan amal dengan kelembutan karena Allah bisa mengingatkan
     hambanya dengan peringatan yang lembut
Untuk melatih kepekaan kita harus melakukan pergaulan sehingga dapat
melembutkan hati. Amalan yang dilatih untuk melembutkan hati :

1.  Bergaul dengan lingkungan orang miskin, sakit dan lemah.
2.  Dengan cara berbuat kebaikan,
Sehingga sikap yang muncul adalah dari menerima pemberian orangmenjadi memberi orang lain. Akhirnya akan menjadi manusia yang ikhlas  dalam beramal.
3.  Selalu ingat kepada Allah.
Kalau kita banyak melakukan dzikir, maka sikap kita adalah sikap yang terkendali kapanpun dan dimanapun. Wallahu'alam.
Secara garis besar pengamalan asma “Al Lathif“dalam doa memiliki empat fungsi.


(1). untuk menyembunyikan diri dari pengelihatan orang-orang zalim ( terlindungi   dari ancaman musuh )
(2).  untuk kebebasan dari segala kesempitan
(3).  untuk memenuhi segala kebutuhan
(4). untuk kemudahan mencari rejeki
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar